Skip to content
Seller atau Brand? Kalau Besok Marketplace Nggak Ngasih Lo Traffic, Bisnis Lo Masih Jalan?
PanduanBusinessMarketplaceBrandingWebsite

Seller atau Brand? Kalau Besok Marketplace Nggak Ngasih Lo Traffic, Bisnis Lo Masih Jalan?

Analisis kenapa jualan cuma di marketplace itu berisiko, dan kapan lo perlu mulai bangun website serta channel sendiri sebagai aset bisnis jangka panjang.

Welcome buat lo yang baru dateng dari Reels! πŸ‘‹ Kalau lo sampai di sini gara-gara nonton Reels gue tentang perbedaan seller dan brand di marketplace, gue mau lanjut sedikit pembahasannya di sini.

Karena sebenarnya masalahnya bukan soal jualan di marketplace itu bagus atau nggak. Menurut gue, pertanyaan yang lebih penting adalah:

Lo lagi bangun toko, atau lo lagi bangun bisnis?

Marketplace bisa bantu lo dapat traffic, transaksi, dan customer baru. Itu jelas berguna. Tapi ada satu hal yang sering nggak kepikiran ketika bisnis mulai jalan: seberapa banyak dari bisnis itu yang benar-benar lo punya dan lo kontrol sendiri?

Di analisis ini, kita akan bahas dari awal. Bukan untuk menyuruh lo meninggalkan marketplace, tapi supaya lo tahu kapan marketplace sebaiknya menjadi channel dan kapan lo perlu mulai membangun aset bisnis sendiri.


1. Coba Lihat Lagi: Lo Sebenarnya Lagi Bangun Apa?

Gini. Dua orang bisa sama-sama jualan produk yang sama di toko oren. Sama-sama punya produk. Sama-sama punya toko. Sama-sama dapat order. Tapi belum tentu mereka sedang membangun hal yang sama.

Yang satu mungkin fokus: "Gimana caranya hari ini ada order?" Yang satunya mulai berpikir: "Gimana caranya bisnis ini tetap punya customer dan bisa jualan walaupun suatu hari gue nggak bergantung pada marketplace?"

Nah, di sini mulai kelihatan bedanya.

Seller vs Brand

Yang DibangunSellerBrand
Fokus utamaTransaksiBisnis jangka panjang
MarketplaceTempat utama jualanSalah satu channel
KetergantunganCenderung tinggiMulai dikurangi
CustomerDilihat sebagai pembeli transaksiDilihat sebagai aset hubungan
ChannelBergantung pada platformMulai membangun channel sendiri
WebsiteBelum tentu dibutuhkanMulai dipertimbangkan sebagai aset
Cara berpikir"Gimana dapat order?""Gimana bisnis ini bisa terus tumbuh?"

Bukan berarti seller itu salah dan brand itu selalu benar. Semua bisnis pasti mulai dari jualan. Masalahnya muncul kalau cara berpikir "yang penting ada order" terus dipakai ketika bisnis sudah mulai berkembang.

Karena semakin besar bisnis lo, semakin penting juga lo mulai punya sesuatu yang tidak sepenuhnya bergantung pada platform orang lain.

Intinya: seller mengejar transaksi. Brand mulai membangun aset di balik transaksi.


2. Marketplace Itu Boleh Jadi Tempat Jualan. Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya Tempat Lo Bergantung.

Gue nggak bilang marketplace jelek. Justru sebaliknya. Marketplace bisa sangat membantu, terutama ketika lo belum punya audience sendiri.

Lo bisa memanfaatkan traffic yang sudah ada, sistem checkout yang sudah tersedia, dan kebiasaan customer yang memang sudah nyaman belanja di sana.

Tapi coba kita lihat bisnisnya dari sisi yang sedikit berbeda.

Seberapa Banyak Bisnis Lo yang Bergantung pada Marketplace?

Bayangin alurnya seperti ini: Traffic β†’ Marketplace β†’ Order β†’ Customer. Kelihatannya simpel.

Tapi kalau hampir semua jalur bisnis lo lewat satu platform, maka ada satu hal yang perlu lo sadari: marketplace berubah β†’ traffic berubah β†’ order berubah β†’ revenue ikut berubah.

Bukan berarti perubahan itu pasti terjadi. Poinnya adalah: semakin banyak bagian penting bisnis lo bergantung pada satu platform, semakin kecil kontrol yang lo punya atas bagian tersebut.

Itu yang perlu mulai dipikirkan ketika bisnis sudah tidak lagi sekadar tahap "coba jualan".

Satu Pertanyaan Sederhana

Kalau besok marketplace tempat lo jualan mengubah algoritma, mengubah biaya, menurunkan traffic, atau membuat customer behavior berubah β€” berapa besar bisnis lo yang ikut terdampak?

Lo nggak perlu langsung punya jawabannya. Tapi pertanyaan ini penting untuk mulai melihat bisnis lo dari perspektif yang lebih panjang. Riset dari Harvard Business Review soal customer retention juga konsisten nunjukkin: mempertahankan hubungan customer yang lo kontrol sendiri jauh lebih murah daripada terus-menerus bergantung pada traffic sewaan.


3. Tapi Ada Satu Hal yang Lebih Penting dari Order

Nah, ini bagian yang menurut gue paling penting. Waktu satu order masuk, yang kelihatan biasanya: Rp200.000 masuk. Selesai.

Tapi sebenarnya ada sesuatu yang lebih berharga dari transaksi itu sendiri: customer.

Karena customer yang sama mungkin bisa beli lagi, mencoba produk lain, merekomendasikan produk lo, atau tetap membeli dari lo beberapa bulan kemudian.

Jadi sebenarnya satu transaksi bisa dilihat seperti ini: Customer β†’ Transaksi β†’ (Uang masuk + Data/relasi β†’ Repeat order β†’ Customer value).

Masalahnya adalah: seberapa banyak dari hubungan itu yang bisa lo bangun sendiri?

Kalau customer hanya mengenal lo sebagai toko yang mereka temukan di marketplace, hubungan mereka dengan bisnis lo juga sangat dipengaruhi oleh marketplace tersebut.

Ini bukan berarti marketplace tidak memberi nilai. Marketplace tetap membantu mempertemukan lo dengan customer. Tapi kalau lo ingin membangun brand dalam jangka panjang, lo perlu mulai memikirkan: "Setelah customer membeli dari gue, gimana gue bisa membangun hubungan dengan mereka sebagai customer brand gue?"

Dari "Satu Order" Menjadi "Customer Lifetime"

Cara melihatnya bisa digeser sedikit.

Cara lama: Traffic β†’ Order β†’ Selesai.

Cara brand: Traffic β†’ First purchase β†’ Customer experience β†’ Relationship β†’ Repeat purchase β†’ Customer value.

Transaksi pertama bukan akhir. Justru bisa menjadi awal.


4. Nah, Di Sini Website Mulai Masuk Akal

Kalau sampai sini lo berpikir: "Oke, terus gue harus bikin website?" Jawabannya: belum tentu sekarang.

Website bukan sesuatu yang otomatis wajib dimiliki semua bisnis sejak hari pertama. Tapi ketika lo mulai serius membangun brand, website mulai punya fungsi yang lebih penting daripada sekadar "biar kelihatan profesional".

Pemilik bisnis kecil mengelola toko online dan website di laptop
Website jadi channel yang sepenuhnya lo kontrol sendiri, di luar aturan marketplace.

Website sebagai Aset yang Lo Kontrol

Bayangin dua kondisi. Kondisi A β€” Hanya Marketplace: Customer β†’ Marketplace β†’ Toko Lo β†’ Transaksi. Sebagian besar pengalaman terjadi di dalam platform.

Kondisi B β€” Marketplace + Website: Traffic pecah ke dua arah β€” Marketplace dan Website β€” yang masing-masing menghasilkan transaksi, lalu bertemu di satu titik: Customer β†’ Brand relationship.

Di kondisi kedua, marketplace tidak hilang. Lo hanya mulai punya jalur lain yang bisa lo bangun dan kembangkan sendiri.

Dan ini yang menurut gue sering salah dipahami: website bukan harus menggantikan marketplace. Website bisa menjadi cara untuk mulai mengurangi ketergantungan lo terhadap marketplace. Kalau lo mau ngerti dulu jenis website apa yang paling cocok buat kebutuhan itu, gue pernah bahas lengkap di 3 Jenis Website yang Bisa Bikin Lo Sedekah ke Developer.


5. Bukan Marketplace vs Website

Ini bukan pertandingan. Marketplace menang di satu hal. Website punya kelebihan di hal lain.

Jadi daripada mikir "Gue harus pilih marketplace atau website?" β€” lebih masuk akal kalau lo mikir: "Gimana dua channel ini bisa punya fungsi yang berbeda dalam bisnis gue?"

Dua Channel, Dua Fungsi

Marketplace

Membantu mendapatkan traffic, customer sudah terbiasa belanja, cocok untuk discovery, memudahkan transaksi β€” tapi bergantung pada aturan platform.

Website

Jadi channel milik sendiri, pengalaman brand lebih bisa dikontrol, cocok untuk membangun brand, memberi ruang untuk hubungan langsung β€” dan lebih banyak hal bisa lo kontrol sendiri.

Bukan berarti website otomatis lebih bagus dalam segala hal. Dan bukan berarti semua traffic marketplace harus dipindahkan ke website. Yang penting adalah lo mulai membangun lebih dari satu kaki untuk bisnis lo.

Kalau bisnis lo cuma punya satu channel (Bisnis β†’ Marketplace), begitu channel itu turun performanya, seluruh bisnis lo ikut goyang. Tapi kalau channel mulai ditambah (Bisnis β†’ Marketplace + Website + Social/Other), sekarang kalau satu channel performanya turun, bisnis lo masih punya channel lain.

Itu bukan berarti risikonya hilang. Tapi ketergantungannya berkurang.


6. Terus Kapan Gue Harus Mulai Bikin Website?

Nah, ini pertanyaan yang lebih berguna daripada "Omzet gue harus berapa baru bikin website?" Menurut gue, nggak ada satu angka sakti yang berlaku untuk semua bisnis. Lebih baik lihat dari kondisi bisnis lo.

Coba Jawab Pertanyaan Ini

PertanyaanBelumSudah
Produk lo sudah terbukti ada yang beli?☐☐
Penjualan mulai konsisten?☐☐
Lo serius mau membangun brand?☐☐
Lo mulai punya customer yang bisa repeat?☐☐
Lo nggak mau seluruh bisnis bergantung pada satu platform?☐☐
Lo punya kemampuan untuk mulai membangun channel sendiri?☐☐

Kalau sebagian besar jawabannya "sudah," mungkin sudah waktunya mulai memikirkan website. Bukan karena bisnis lo "harus terlihat profesional". Tapi karena bisnis lo mulai membutuhkan aset yang bisa lo bangun untuk jangka panjang.

Jangan Terjebak Satu Pertanyaan

Jangan cuma tanya: "Website gue bisa menghasilkan berapa order?" Tanya juga: "Kalau gue punya website ini selama 3–5 tahun, aset apa yang sedang gue bangun?"

Karena nilai website untuk brand nggak selalu kelihatan dari order pertama.


7. Jadi, Gue Harus Berhenti Jualan di Marketplace?

Nggak. Menurut gue justru nggak perlu. Yang perlu diubah adalah cara lo melihat marketplace.

Bukan: "Marketplace adalah bisnis gue." Tapi: "Marketplace adalah salah satu channel bisnis gue."

Ini bukan berarti semua customer marketplace harus dipaksa pindah ke website. Bukan juga berarti website harus langsung menggantikan marketplace. Strateginya lebih sederhana:

Gunakan marketplace untuk membantu bisnis mendapatkan customer. Gunakan website untuk mulai membangun channel dan aset yang lo kontrol sendiri.

Pelan-pelan. Nggak harus semuanya langsung berubah. Kalau lo butuh partner buat mulai bangun sistem operasional atau website yang jadi aset itu, tim kita di Exclolab biasa mulai dari sesi Discovery buat bedah kebutuhan bisnis lo dulu sebelum masuk ke development.


Penutup β€” Sekarang Coba Lo Tanya ke Diri Lo Sendiri

Kita balik ke pertanyaan dari awal.

Kalau besok marketplace tempat gue jualan tiba-tiba hilang, apa yang masih gue punya?

Produk? Brand? Customer? Website? Database? Audience? Channel lain? Atau ternyata selama ini yang gue punya cuma toko di marketplace?

Gue nggak bilang semua bisnis harus langsung punya website. Dan gue juga nggak bilang marketplace harus ditinggalkan. Menurut gue, poinnya lebih sederhana:

Kalau lo serius membangun brand, jangan cuma berpikir bagaimana caranya mendapatkan order. Mulai pikirkan juga: "Apa yang sedang gue bangun dari setiap order yang masuk?"

Karena pada akhirnya, ada perbedaan antara punya toko yang menghasilkan penjualan dan punya bisnis yang terus membangun asetnya sendiri.


Quick Takeaway

Seller

Mencari order β†’ bergantung pada channel β†’ transaksi.

Brand

Mencari customer β†’ membangun relationship β†’ membangun channel sendiri β†’ membangun aset jangka panjang.

Marketplace bukan musuh. Tapi kalau lo ingin membangun brand, jangan sampai marketplace menjadi satu-satunya aset yang menopang bisnis lo.

Kalau lo mau mulai bedah kondisi bisnis lo dan cari tahu channel mana yang perlu lo bangun duluan β€” tinggalkan pesan di sini dan kita jadwalkan obrolan pertama.

Author

Lorencius Alvin Purnama

Lorencius Alvin Purnama

Co-Founder & Managing Director

Before Exclolab, Loren spent a decade embedded in service businesses across Southeast Asia β€” not as an outside consultant, but as the person who sits with the team, watches how work actually flows, and figures out where the system is breaking down. He developed the Discovery methodology at Exclolab from that experience: the idea that you cannot design a good system until you understand the one it's replacing. At Exclolab, he owns the Discovery phase and the client relationship from first conversation through final deployment.

Related articles

Salah Pilih Website = Sedekah ke Developer, 3 Website Lo Wajib Tau
PanduanBusinessWebsite

Salah Pilih Website = Sedekah ke Developer, 3 Website Lo Wajib Tau

Website itu bukan cuma "ada domain, ada halaman, selesai." Ada Marketing Website, E-commerce Website, dan Company Profile Website β€” dan salah pilih salah satunya bisa bikin lo bayar mahal buat website yang akhirnya nggak kepakai. Ini self-assessment, matrix perbandingan, decision tree, sampai 10 pertanyaan wajib sebelum lo bayar developer.

Lorencius Alvin Purnama
Lorencius Alvin Purnama
Read more β†’
Maintenance Fee Itu Sebenarnya Buat Apa?
PanduanBusinessSoftware Development

Maintenance Fee Itu Sebenarnya Buat Apa?

Kalau developer bilang "nanti ada maintenance ya, Pak" tapi lo nggak pernah tahu itu diapain, ini panduannya: cara bedain bug, change request, dan maintenance, 8 pertanyaan wajib, red flag check, template breakdown biaya, sampai kalimat copy-paste buat nanya ke developer.

Lorencius Alvin Purnama
Lorencius Alvin Purnama
Read more β†’
Kenapa Banyak Perusahaan Indonesia Masih Betah Pakai Server Fisik
PanduanBusinessSystems

Kenapa Banyak Perusahaan Indonesia Masih Betah Pakai Server Fisik

Kalau lo mikir perusahaan yang masih pakai server fisik itu cuma "ketinggalan zaman," coba baca ini dulu. Ini 7 alasan nyata kenapa banyak perusahaan Indonesia masih bertahan dengan server sendiri, mana yang alasan valid, dan mana yang cuma kebiasaan lama yang belum pernah dipertanyakan.

Lorencius Alvin Purnama
Lorencius Alvin Purnama
Read more β†’
Seller atau Brand? Kalau Besok Marketplace Nggak Ngasih Lo Traffic, Bisnis Lo Masih Jalan? β€” Exclolab