Salah Pilih Website = Sedekah ke Developer, 3 Website Lo Wajib Tau
Cara milih website yang benar-benar punya fungsi buat bisnis lo β bukan cuma jadi brosur digital yang akhirnya mangkrak.
Welcome buat lo yang baru dateng dari Reels! π Ini versi lengkap dari yang gue bahas di video kemarin β kalau lo cuma sempet nonton potongannya, lo mungkin pernah mikir:
"Bisnis gue harus punya website."
Oke. Tapi... website yang mana?
Karena website itu bukan cuma "ada domain β ada halaman β selesai." Ada website yang tugasnya buat narik calon customer. Ada yang dibuat supaya orang bisa langsung beli dan checkout. Ada juga yang fokus buat ngebangun kepercayaan terhadap perusahaan.
Masalahnya, banyak bisnis bikin website tanpa tahu sebenarnya mereka butuh yang mana. Akhirnya? Website jadi ada. Domain ada. Tampilannya bagus. Developer happy. Tapi setelah itu nggak dipakai. π
Atau paling banter jadi brosur digital yang kebetulan bisa dibuka lewat Google. Padahal kalau dari awal jenis websitenya dipilih sesuai kebutuhan bisnis, website bisa punya fungsi yang jauh lebih jelas.
Jadi di panduan ini kita bakal cari tahu: bisnis lo sebenarnya butuh website yang mana?
1. Ada 3 Jenis Website yang Perlu Lo Tahu
Marketing Website
Tujuannya: narik calon customer dan mengumpulkan data mereka.
E-commerce Website
Tujuannya: bikin customer bisa langsung beli tanpa harus chat lo satu-satu.
Company Profile Website
Tujuannya: membangun branding dan kepercayaan.
Ketiganya sama-sama disebut "website." Tapi pekerjaannya beda. Dan ini yang sering bikin orang salah pilih.
2. Self-Assessment: Jawab Dulu Sebelum Lanjut
Sebelum lihat penjelasan masing-masing, jawab dulu lima pertanyaan ini di kepala lo.
Kalau seseorang datang ke website lo, tindakan yang paling lo inginkan adalah:
- Menghubungi gue / minta informasi
- Langsung beli produk
- Mengenal perusahaan gue lebih jauh
Produk atau jasa lo biasanya dijual dengan cara:
- Customer perlu konsultasi / tanya dulu
- Customer bisa pilih β bayar β selesai
- Customer perlu melihat kredibilitas perusahaan dulu
Masalah utama yang ingin diselesaikan website:
- Kurang calon customer
- Proses jualan masih manual
- Orang belum cukup percaya dengan perusahaan
Kalau website lo berhasil, hasil paling pentingnya adalah:
- Ada orang yang menghubungi gue
- Ada transaksi masuk
- Orang lebih percaya dengan perusahaan gue
Customer ideal lo biasanya:
- Perlu diyakinkan dulu sebelum membeli
- Sudah tahu apa yang mau dibeli
- Perlu melihat siapa perusahaan di balik produk/jasa tersebut
Kalau jawaban lo paling banyak "hubungi gue / calon customer," kemungkinan besar lo butuh Marketing Website. Kalau paling banyak "langsung beli," lo butuh E-commerce Website. Kalau paling banyak "kenal dan percaya perusahaan," lo butuh Company Profile Website.
Kalau hasilnya campur? Normal. Satu bisnis bisa punya lebih dari satu kebutuhan. Yang penting adalah tahu: fungsi utama website lo apa.
3. Website #1: Marketing Website
Ini website yang tugas utamanya: narik calon customer. Bukan sekadar "nih perusahaan gue," tapi "ini masalah yang bisa gue bantu. Ini solusinya. Kalau tertarik, hubungi gue."
Fokus utamanya ada tiga: penawaran (orang harus ngerti lo jual apa), edukasi (orang harus ngerti kenapa mereka butuh itu), dan conversion (orang punya jalan yang jelas untuk menghubungi lo).
Struktur sederhananya: Hero β Problem β Solution β Proof β Offer β CTA β Contact Form.
Checklist Marketing Website:
- Penawaran jelas
- Target customer jelas
- Masalah yang diselesaikan jelas
- Ada edukasi
- Ada alasan untuk percaya
- Ada CTA
- Ada form kontak
- Customer tahu langkah berikutnya
Kalau website lo punya semuanya... setidaknya website tersebut punya pekerjaan. π
4. Website #2: E-commerce Website
Kalau marketing website fokusnya "hubungi gue," e-commerce fokusnya "beli sekarang."
Customer bisa lihat produk β masukkan keranjang β checkout β bayar β pesanan diproses/dikirim. Idealnya, lo nggak perlu chat customer satu-satu untuk setiap transaksi.
Checklist E-commerce Website:
- Product catalog
- Detail produk
- Harga
- Keranjang
- Checkout
- Payment
- Order confirmation
- Status order
- Pengiriman / fulfillment
- Customer bisa menyelesaikan pembelian tanpa chat manual
Kalau semua ini memang dibutuhkan bisnis lo... baru e-commerce website mulai masuk akal.
5. Website #3: Company Profile Website
Company profile beda lagi. Fokusnya bukan "langsung checkout," tapi "siapa sih perusahaan ini?"
Website ini membantu membangun branding, kredibilitas, kepercayaan publik, kepercayaan investor, dan reputasi perusahaan. Biasanya isinya: Tentang Perusahaan, Portfolio, Achievement, Team, Client/Partner, Contact.
Checklist Company Profile Website:
- Profil perusahaan
- Tentang perusahaan
- Portfolio
- Achievement
- Informasi yang membangun kredibilitas
- Informasi yang dibutuhkan publik / investor
- Contact information
Kalau tujuan utama lo "gue mau perusahaan gue terlihat credible," company profile website bisa jadi pilihan yang lebih tepat.
6. Jangan Salah Pilih
Misalnya bisnis lo jasa. Lo bikin company profile. Isinya: About Us, Vision, Mission, Our Team, Our Achievement. Bagus. Kelihatan profesional.
Tapi... calon customer mau ngapain setelah baca itu? Kalau jawabannya "ya... lihat-lihat," nah. Mungkin website lo sebenarnya lebih membutuhkan fungsi marketing.
Sebaliknya. Kalau bisnis lo menjual ratusan produk dan customer sudah tahu apa yang mau dibeli, tapi website lo cuma berisi About Us, Our Vision, Our Mission, Contact β customer masih harus: "Kak, mau beli yang ini gimana?" π
Mungkin yang lo butuhkan bukan company profile. Lo butuh e-commerce.
7. Website Type Matrix
| Marketing | E-commerce | Company Profile | |
|---|---|---|---|
| Tujuan utama | Cari lead | Jual langsung | Branding & trust |
| CTA utama | Hubungi | Beli | Pelajari perusahaan |
| Contact form | Penting | Opsional | Penting |
| Product catalog | Bisa | Penting | Bisa |
| Checkout | Tidak harus | Wajib | Tidak |
| Payment | Tidak harus | Wajib | Tidak |
| Portfolio | Bisa | Bisa | Penting |
| Company info | Secukupnya | Secukupnya | Penting |
| Fokus utama | Conversion | Transaction | Credibility |
8. Decision Tree Sederhana
Tanya ke diri lo sendiri: "Lo mau website ini terutama menghasilkan apa?"
- Kalau jawabannya lead / calon customer β Marketing Website
- Kalau jawabannya transaksi β E-commerce Website
- Kalau jawabannya trust / branding β Company Profile Website
Kalau jawabannya lebih dari satu? Normal. Misalnya "gue mau dapat lead sekaligus membangun trust" β bisa saja marketing website punya elemen company profile. Atau "gue mau jualan langsung tapi juga mau membangun brand" β bisa e-commerce dengan bagian brand/company information.
Yang penting: apa pekerjaan utama website lo?
9. Jangan Mulai dari Fitur
Jangan mulai dari: "Website saya mau pakai fitur apa aja?" Mulai dari: "Website ini mau mengerjakan apa?" Baru turun ke fitur.
Marketing Website
Landing page, service/product pages, lead form, WhatsApp CTA, contact form, testimonials/proof, analytics, SEO basics.
E-commerce Website
Product catalog, product detail, cart, checkout, payment, order management, shipping, customer account, notifications.
Company Profile Website
Company overview, about, portfolio, achievement, team, client/partner, contact, investor/public information.
Jangan centang semuanya cuma karena kelihatan keren. Centang kalau memang bisnis lo membutuhkan.
10. ROI Reality Check
Website bukan cuma soal "berapa biaya bikin website?" tapi "website ini bisa menghasilkan atau menghemat apa?"
Kalau marketing website: berapa target lead per bulan, berapa yang jadi customer, berapa nilai rata-rata satu customer β dari situ ketahuan potensi revenue-nya. Kalau e-commerce: berapa transaksi per bulan dan berapa average order-nya. Kalau company profile: mungkin nggak langsung menghasilkan transaksi, tapi bisa punya fungsi membangun kredibilitas, membantu sales, membantu partnership, membantu investor.
Pertanyaan terakhir yang paling penting: kalau website ini selesai besok, apa yang berubah di bisnis gue?
Kalau jawabannya "ya... kita sekarang punya website." Hmm. Itu belum cukup. π
11. Website Mistake Checklist
- Gue tahu website ini dibuat untuk apa
- Gue tahu kenapa memilih tipe website ini
- Semua fitur punya alasan bisnis
- Ada CTA
- Ada conversion path
- Website nggak cuma jadi brosur
- Gue tahu bagaimana mengukur keberhasilannya
- Gue sudah tahu tujuan dan struktur sebelum development dimulai
Kalau banyak yang belum tercentang... jangan buru-buru kasih brief ke developer. Rapikan dulu.
12. Quick Cheat Sheet
π’ Marketing Website
Tujuan: Cari calon customer.
Fokus: Offer + edukasi + lead capture.
CTA: Hubungi / Konsultasi / Minta Penawaran.
π΅ E-commerce Website
Tujuan: Jual langsung.
Fokus: Product β Cart β Checkout β Payment.
CTA: Beli sekarang.
π‘ Company Profile Website
Tujuan: Branding + trust.
Fokus: Company + Portfolio + Achievement + Credibility.
CTA: Pelajari / Hubungi / Next Step.
The Golden Rule
Sebelum lo tanya developer: "Mas, bikin website berapa?" Tanya diri lo sendiri dulu: "Website ini mau gue suruh kerja ngapain?"
Karena kalau lo nggak tahu jawabannya, developer juga akhirnya cuma bisa: "Ya bikin website aja." π Dan itu cara paling gampang untuk berakhir punya website yang bagus β online β mahal β nggak kepakai.
Bonus: 10 Pertanyaan Sebelum Lo Bayar Developer
- Website ini tujuan utamanya apa?
- Siapa yang akan menggunakan website?
- Apa tindakan utama yang kita inginkan dari visitor?
- Kita butuh lead atau transaksi langsung?
- Apakah customer perlu checkout sendiri?
- Apakah kita perlu company profile yang kuat?
- Fitur apa yang benar-benar dibutuhkan?
- Fitur mana yang sebenarnya cuma "kelihatan keren"?
- Bagaimana kita mengukur website ini berhasil?
- Kalau website ini selesai besok, apa yang berubah di bisnis kita?
Kalau lo bisa jawab semuanya... lo sudah jauh lebih siap ngobrol dengan developer. Dan kemungkinan besar... lo juga jauh lebih kecil kemungkinannya buat sedekah ke developer. π
Author

Lorencius Alvin Purnama
Co-Founder & Managing Director
Before Exclolab, Loren spent a decade embedded in service businesses across Southeast Asia β not as an outside consultant, but as the person who sits with the team, watches how work actually flows, and figures out where the system is breaking down. He developed the Discovery methodology at Exclolab from that experience: the idea that you cannot design a good system until you understand the one it's replacing. At Exclolab, he owns the Discovery phase and the client relationship from first conversation through final deployment.