Skip to content
Lo Nggak Perlu Bisa Coding Buat Mulai Bikin Sistem
PanduanToolsAI ToolsBusinessSystemsNo-Code

Lo Nggak Perlu Bisa Coding Buat Mulai Bikin Sistem

Cara ngebedah bisnis lo dari nol, biar AI nggak bikin sistem ngawur.

Lo yang Comment "ANALIS" β€” Ini Dia Step by Step-nya

Kalau lo nyampe di sini dari carousel gue, welcome. πŸ‘‹

Kayak yang gue bilang di sana: kalau lo mau bikin sistem hari ini, sebenernya lo nggak perlu belajar coding terlalu dalam. Yang jauh lebih penting adalah lo fokus dulu ke analisa bisnisnya.

Itu literally pintu masuk gue dulu waktu pertama kali join agency β€” bukan dari coding.

Dan skill ini bukan cuma buat orang IT. Mau lo masih mahasiswa, udah berkeluarga, atau sekalipun udah jadi manager, skill ini perlu banget lo punya. Karena ini bikin lo tahu sisi lain dari cara kerja bisnis atau perusahaan β€” yang kalau lo asah, bisa nyelametin bisnis dan omzet ratusan juta ke depannya.

Jadi sesuai janji gue di carousel β€” ini dia cara simpel buat lo bisa jabarin proses bisnis lo sendiri, tanpa istilah coding sama sekali. Gratis, step by step.

Sekarang gue jelasin lebih detail.


Lo Nggak Perlu Bisa Coding Buat Mulai Bikin Sistem

Cara ngebedah bisnis lo dari nol, biar AI nggak bikin sistem ngawur

Sebelum mulai

Kalau lo baca ini terus mikir:

"Waduh, gue nggak ngerti beginian."

Santai. Memang ini buat lo yang belum ngerti.

Gue nggak akan ngajarin coding di sini. Nggak ada database, frontend, backend, API, atau istilah-istilah yang bikin lo baru buka halaman pertama udah pengen tutup PDF. πŸ˜‚

Gue cuma mau ngajarin lo satu hal:

Gimana caranya lo menjelaskan bisnis lo sendiri supaya lo, developer, atau AI sama-sama ngerti sistem seperti apa yang sebenarnya lo butuhin.

Karena sekarang AI memang bisa bantu bikin sistem. Tapi ada satu masalah kecil: AI nggak tahu bisnis lo.

AI tahu banyak hal. Tapi AI nggak tahu kenapa admin lo selama ini melakukan sesuatu dengan cara tertentu. AI nggak tahu kalau owner harus approve transaksi tertentu. AI nggak tahu kalau barang rusak dipisahkan dari stok normal. AI nggak tahu kalau setiap Jumat ada proses khusus.

Kecuali lo ceritain.

Nah, di sinilah kita mulai.


1. Jangan mulai dari "gue butuh aplikasi"

Ini kesalahan yang gampang banget dilakukan.

Misalnya lo bilang:

"Gue kayaknya butuh aplikasi inventory."

Oke. Tapi gue mau tanya: Kenapa?

Mungkin jawabannya:

"Karena gue nggak pernah tahu stok gue sebenarnya berapa."

Nah. Itu masalahnya. Bukan aplikasinya.

Bisa jadi setelah kita bongkar, ternyata masalahnya karena:

  • barang masuk sering lupa dicatat
  • barang keluar nggak selalu dicatat
  • barang rusak masih dihitung sebagai stok
  • ada dua gudang dengan catatan berbeda
  • admin harus copy data dari WhatsApp ke Excel

Nah, sekarang kita mulai ngerti. Jadi sebelum mikirin:

"Aplikasi apa yang gue butuhin?"

Tanya dulu:

"Masalah apa yang sebenarnya mau gue beresin?"

Coba lo jawab: Masalah yang paling bikin gue kesel di bisnis gue adalah...

Nggak usah bahasa profesional. Jangan: "Terjadi inefisiensi pada proses operasional." πŸ˜‚

Cukup: "Admin gue tiap hari rekap order dari WhatsApp ke Excel." atau "Gue tiap hari harus nanya ke staff kerjaan ini udah selesai belum."

Itu sudah cukup.


2. Sekarang: siapa yang sebenarnya ngerjain?

Oke, kita ambil contoh: "Admin gue tiap hari rekap order dari WhatsApp ke Excel."

Sekarang gue tanya: Siapa yang melakukan? Jawabannya: "Admin."

Oke. Tapi gue belum selesai. πŸ˜‚

Admin ngapain? Buka WhatsApp. Terus? Lihat order. Terus? Catat ke Excel. Terus? Kasih tahu bagian lain. Terus? Update status order.

Nah. Sekarang kita mulai punya gambaran. Tadinya: "Admin rekap order." Sekarang:

Customer order β†’ Admin cek WhatsApp β†’ Admin catat β†’ Admin update β†’ Tim lanjut proses.

Nah. Ini penting karena sistem nantinya harus membantu orang tertentu melakukan pekerjaan tertentu.

Misalnya: Admin boleh input order. Manager mungkin boleh approve. Owner mungkin cukup melihat laporan.

Jadi jangan cuma mikir: "Gue mau bikin sistem order." Tanya juga: "Siapa yang akan pakai?"

Coba lo jawab: Orang yang terlibat dalam proses ini: 1. 2. 3.

Kalau cuma satu orang? Ya satu aja. Nggak usah bikin 12 role biar kelihatan enterprise. πŸ˜‚


3. Sekarang kita ikutin prosesnya

Nah, ini bagian paling penting. Gue mau lo ambil masalah tadi dan ceritain dari awal sampai selesai.

Misalnya kita pakai contoh order. Customer kirim order. Oke. Setelah itu? Admin buka WhatsApp. Terus? Admin cek detail order. Terus? Admin cek stok. Terus? Admin masukin ke Excel. Terus? Customer bayar. Terus? Barang dikirim.

Nah. Sekarang kita punya:

Customer order β†’ Admin cek order β†’ Cek stok β†’ Catat order β†’ Customer bayar β†’ Barang dikirim

Selesai. Lo nggak perlu bikin diagram cantik. Nggak perlu buka software khusus. Nulis kayak gini juga sudah cukup. Karena yang kita cari sebenarnya cuma: "Urutan kerjaannya gimana?"

Sekarang coba lo: Proses gue dari awal sampai selesai: 1. 2. 3. 4. 5.

Kalau cuma 3 langkah, ya 3. Kalau 8, ya 8. Nggak ada nilai A atau B di sini. πŸ˜‚


4. Nah, bagian mana yang paling bikin ribet?

Sekarang kita lihat proses tadi. Misalnya:

Customer order β†’ Admin cek order β†’ Cek stok (sering salah) β†’ Input Excel (sering lupa) β†’ Customer bayar β†’ Update status (sering telat) β†’ Barang dikirim

Nah. Sekarang kita tahu di mana masalahnya terjadi. Dan ini yang sebenarnya kita cari.

Karena sistem bukan dibuat supaya bisnis lo kelihatan canggih. Sistem dibuat supaya bagian yang bikin kerjaan lo ribet bisa dibantu.

Coba cari bagian yang:

  • sering salah
  • sering lupa
  • sering telat
  • harus dicek ulang
  • dikerjakan dua kali
  • masih copy-paste
  • bikin owner harus turun tangan
  • bikin customer komplain

Coba lo jawab: Bagian yang paling bikin ribet adalah... Kenapa ribet?

Kalau jawabannya: "Karena admin sering lupa." Bagus. Kalau: "Karena gue harus ngecek sendiri." Bagus. Kalau: "Gue nggak tahu." Juga nggak apa-apa. Berarti kita baru tahu ada bagian yang memang belum jelas. πŸ˜‚


5. Baru sekarang kita mikirin sistem

Nah. Sekarang baru kita boleh ngomong: "Sistemnya harus ngapain?"

Misalnya masalahnya: Admin sering salah cek stok. Mungkin sistem bisa: Menampilkan stok secara otomatis.

Masalah: Admin sering lupa update order. Mungkin sistem bisa: Punya status order yang jelas.

Masalah: Owner nggak tahu order mana yang belum dikirim. Mungkin sistem bisa: Menampilkan daftar order yang belum dikirim.

Lihat urutannya? Masalah β†’ proses β†’ bagian yang ribet β†’ sistem membantu.

Bukan: "Gue mau dashboard." Terus baru kita cari dashboard itu buat apa. πŸ˜‚


6. Jangan lupa: siapa boleh melakukan apa?

Ini juga simpel. Misalnya ada:

Admin β€” boleh: input order, melihat stok, update status. Nggak boleh: menghapus transaksi, mengubah harga sembarangan.

Manager β€” boleh: approve discount, melihat order, melihat laporan tertentu.

Owner β€” boleh: melihat semuanya, approve hal penting.

Kenapa ini perlu dipikirin? Karena kalau kita bikin sistem, nggak semua orang harus bisa melakukan semuanya. Kalau admin bisa menghapus semua transaksi? Ya bisa bahaya. πŸ˜‚

Coba lo jawab: Role: ___ β€” Boleh melakukan: ___ β€” Nggak boleh melakukan: ___


7. Kalau sesuatu nggak berjalan normal, gimana?

Nah, ini yang sering dilupain. Proses normal gampang: Customer order β†’ stok ada β†’ bayar β†’ kirim. Tapi dunia nyata nggak sesederhana itu. πŸ˜‚

Kalau stok habis? Kalau customer cancel? Kalau pembayaran gagal? Kalau barang rusak? Kalau approval ditolak?

Lo nggak harus punya jawaban sempurna. Kalau belum tahu, tulis: "Belum tahu." Serius. Itu lebih baik daripada bikin jawaban asal supaya kelihatan pintar.

Karena kalau ternyata: "Gue nggak tahu siapa yang harus approve." β€” itu sendiri adalah informasi penting. Berarti prosesnya memang belum jelas. Dan itu mungkin justru salah satu hal yang perlu diberesin sebelum kita bikin sistem.


8. Oke, sekarang kita punya gambaran sistem

Coba kita lihat contoh kita tadi. Awalnya: "Gue butuh aplikasi order." Sekarang kita tahu:

Masalah β€” Admin sering salah mencatat order.
Orang β€” Admin, Manager, Owner.
Proses β€” Customer order β†’ Admin cek β†’ cek stok β†’ catat β†’ bayar β†’ kirim.
Masalah di proses β€” Cek stok dan update order masih manual.
Aturan β€” Admin input. Manager approve hal tertentu. Owner bisa melihat semuanya.
Kondisi khusus β€” Kalau stok habis, order nggak boleh langsung dikirim.
Hasil yang diinginkan β€” Admin lebih gampang mengelola order dan owner bisa tahu statusnya.

Nah. Sekarang kita sudah punya gambaran yang cukup jelas tentang sistem yang mungkin kita butuhin. Padahal... belum coding sama sekali.


9. Sekarang baru kasih ke AI

Nah, ini baru seru. Sekarang lo bisa kasih informasi tadi ke AI.

Jangan cuma: "Bikinin gue sistem order." Karena AI akan menebak bagian yang nggak lo jelaskan. Dan AI kalau menebak itu percaya dirinya luar biasa. πŸ˜‚

Lebih baik kasih konteks. Lo bisa mulai dengan:

Gue punya bisnis dengan beberapa admin, manager, dan owner.

Masalah utama gue:
[ISI MASALAH]

Orang yang terlibat:
[ISI ROLE]

Proses sekarang:
[ISI PROSES]

Bagian yang paling sering bermasalah:
[ISI]

Siapa boleh melakukan apa:
[ISI]

Kalau terjadi masalah:
[ISI]

Hasil yang gue inginkan:
[ISI]

Tolong pahami dulu bisnis dan proses gue.

Jangan langsung bikin aplikasi.

Pertama:
1. Rangkum masalah gue.
2. Jelaskan proses gue.
3. Tunjukkan bagian yang bisa dibantu sistem.
4. Tanyakan apa yang masih kurang jelas.
5. Setelah itu baru kasih usulan sistem.

Lihat? Lo sekarang nggak bilang: "AI, bikin sesuatu." Lo bilang: "Ini bisnis gue. Tolong pahami dulu." Itu perbedaannya.


10. Cheat Sheet: simpan ini

Kalau suatu hari lo mikir: "Kayaknya bisnis gue butuh sistem." Jangan langsung buka AI. Tanya 7 hal ini dulu:

  1. Masalahnya apa? Apa yang bikin gue kesel?
  2. Siapa yang mengerjakan? Orang mana yang terlibat?
  3. Prosesnya gimana? Dari awal sampai selesai urutannya apa?
  4. Bagian mana yang bermasalah? Mana yang sering salah, telat, lupa, atau dikerjakan dua kali?
  5. Siapa boleh melakukan apa? Apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan tiap orang?
  6. Kalau ada masalah gimana? Kalau cancel, gagal, habis, salah, atau ditolak, apa yang terjadi?
  7. Sistem harus membantu apa? Setelah sistem ada, kerjaan apa yang harus jadi lebih gampang?

Kalau lo bisa jawab tujuh ini, lo sudah punya bahan dasar yang jauh lebih bagus buat ngobrol dengan AI atau developer.


Bonus: jangan lupa satu pertanyaan terakhir

Sebelum akhirnya bilang: "Oke, kita bikin sistem." Tanya: "Emang harus bikin sistem baru?" πŸ˜‚

Karena bisa aja jawabannya: "Nggak perlu." Mungkin cukup:

  • pakai software yang sudah ada
  • rapihin Excel
  • bikin SOP
  • automation sederhana
  • sambungkan dua aplikasi
  • atau ubah proses kerja

Software itu alat, bukan tujuan. Jangan bikin aplikasi cuma karena sekarang AI bisa bikin aplikasi. Bikin karena memang ada masalah yang layak diberesin.


Penutup

Kalau tadi lo merasa: "Oh, ternyata analisa bisnis nggak seseram itu." Nah, itu memang tujuan gue.

Lo nggak harus bisa coding dulu. Lo nggak harus ngerti software dulu. Lo nggak harus tahu istilah teknis dulu.

Mulai aja dari bisnis lo sendiri. Tanya: Apa masalahnya? Siapa yang ngerjain? Prosesnya gimana? Bagian mana yang bikin ribet? Sistem bisa bantu di mana?

Sesimpel itu dulu. Nanti kalau lo makin sering latihan, pertanyaan lo akan makin bagus. Jawaban lo akan makin detail.

Dan lama-lama lo bakal mulai melihat bisnis bukan cuma sebagai: "Gue jual barang." atau "Gue punya salon." atau "Gue punya agency."

Tapi sebagai kumpulan proses yang bisa lo pahami, lo rapihin, dan kalau memang perlu, lo bantu dengan teknologi.

Dan menurut gue, itu salah satu skill yang makin penting sekarang. Karena AI makin jago bikin software. Tapi AI tetap perlu seseorang yang bilang: "Ini sebenarnya yang gue butuhin."

Makasih udah baca sampai sini ❀️ Kalau lo sampai selesai, gue apresiasi banget.

Semoga setelah baca ini lo jadi sedikit lebih pede buat ngobrol soal sistem, software, dan AI meskipun lo bukan orang IT.

Kalau lo suka konten kayak gini, follow @denganloren di Instagram. Gue bakal terus bahas AI, website, software, digitalisasi bisnis, dan teknologi dengan bahasa yang lebih manusiawi.

Sampai ketemu di konten berikutnya.

Author

Lorencius Alvin Purnama

Lorencius Alvin Purnama

Co-Founder & Managing Director

Before Exclolab, Loren spent a decade embedded in service businesses across Southeast Asia β€” not as an outside consultant, but as the person who sits with the team, watches how work actually flows, and figures out where the system is breaking down. He developed the Discovery methodology at Exclolab from that experience: the idea that you cannot design a good system until you understand the one it's replacing. At Exclolab, he owns the Discovery phase and the client relationship from first conversation through final deployment.

Related articles

Cara Bikin Website Sendiri Pakai Lovable
ToolsLovableAI Tools

Cara Bikin Website Sendiri Pakai Lovable

Istri gue yang nggak ngerti coding bikin website sendiri. Gue nggak bantu coding-nya β€” gue cuma tunjukin cara ngomong ke AI-nya. Di catatan ini gue tulisin persis gimana prosesnya, lengkap dengan prompt yang bisa langsung lo pakai.

Lorencius Alvin Purnama
Lorencius Alvin Purnama
Read more β†’
Lo Nggak Perlu Bisa Coding Buat Mulai Bikin Sistem β€” Exclolab