Kalau Orang yang Jual Jasa Bikin Sistem, Perusahaannya Pakai Sistem Custom Semua Dong?
Ini jawaban gue sebagai pemilik perusahaan software.
Lo Abis Nonton Reel Gue? Nih Jawaban Lengkapnya
Kalau lo baru selesai nonton reel gue soal sistem internal Exclolab, welcome. π
Pertanyaannya kurang lebih gini: "Kalau lo jual jasa bikin sistem, harusnya perusahaan lo sendiri pakai sistem custom semua dong?"
Di reel, waktu gue cuma 30-60 detik buat jawab. Nggak cukup buat gue jelasin semua pertimbangannya. Makanya di sini gue bedah lebih dalam.
Ini Jawaban Gue Sebagai Pemilik Perusahaan Software
Gue rasa pertanyaan ini cukup masuk akal.
Kalau gue jualan jasa bikin sistem, harusnya perusahaan gue sendiri: bikin sistem sendiri, pakai sistem sendiri, semua custom, nggak pakai software orang lain. Kan? π
Ternyata nggak.
Di bisnis gue sendiri, ada yang memang gue bikin. Ada yang gue pakai dari software orang lain. Ada yang pakai SaaS. Ada yang pakai automation. Ada yang pakai AI.
Bahkan ada hal-hal yang... masih gue kerjain pakai Excel. π
Dan itu bukan karena gue nggak bisa bikin. Justru karena gue bisa bikin, gue jadi makin tahu kapan sesuatu memang perlu dibikin dan kapan sebenarnya nggak perlu.
1. "Lah, Kalau Bisa Bikin Sendiri Kenapa Nggak Bikin Sendiri Aja?"
Nah, ini pertanyaan yang paling masuk akal.
Jawabannya sederhana:
Karena bikin software itu bukan tujuan gue.
Tujuan gue adalah: bisnis gue jalan lebih enak.
Misalnya gue butuh invoice. Kalau sudah ada software yang bisa bikin invoice, bisa kirim invoice, bisa catat pembayaran, dan harganya masuk akal, ya gue pakai.
Ngapain developer gue suruh bikin invoice system sendiri? Cuma supaya gue bisa bilang: "Nih, invoice system gue custom." π
Nggak ada yang peduli. Yang gue peduli: invoice-nya jalan nggak?
2. "Tapi Kan Lo Bisa Bikin?"
Bisa. Tapi bisa bukan berarti harus. Ini menurut gue penting.
Lo bisa aja bikin meja sendiri. Tapi kalau IKEA jual meja yang bagus, cukup kuat, harganya masuk, tinggal rakit β ya... beli IKEA. π
Lo nggak perlu beli kayu, beli gergaji, belajar potong kayu, terus tiga hari kemudian baru sadar: "Lah kok miring?"
Nah. Software juga begitu. Kalau sesuatu sudah ada dan memang cukup buat kebutuhan gue: gue pakai.
3. Terus, Apa yang Gue Bikin Sendiri?
Nah, ini baru menarik.
Gue bikin sendiri kalau ada sesuatu yang spesifik banget sama cara kerja bisnis gue.
Misalnya ada proses internal yang software biasa nggak bisa handle dengan enak. Atau ada pekerjaan yang dilakukan terus-menerus, makan waktu, bikin orang harus copy-paste, gampang salah, datanya harus nyambung ke beberapa tempat.
Nah. Di situ baru gue mulai mikir: "Kayaknya ini lebih enak kalau kita bikin sendiri."
Jadi gue nggak mulai dari: "Kita bisa bikin apa?"
Gue mulai dari: "Masalah apa yang paling ngeselin?" π
4. Contohnya Gimana?
Misalnya team gue tiap hari harus: buka sistem A, download data, buka Excel, rapihin, copy ke sistem B, terus kasih tahu manager lewat WhatsApp.
Sekali dua kali? Ya udah. Tapi kalau dilakukan setiap hari? Nah. Mulai gue hitung.
Berapa menit? Berapa orang? Berapa kali seminggu? Berapa banyak kesalahan?
Kalau ternyata 5 orang Γ 30 menit sehari, itu sudah lumayan banyak waktu yang kebuang.
Nah, kalau software yang ada nggak bisa beresin masalah ini... baru custom system mulai masuk akal.
5. Tapi Kalau Sudah Ada Software yang Bagus?
Gue nggak gengsi. Kalau software orang lain bisa menyelesaikan masalah gue: gue pakai.
Mau itu SaaS. Mau itu software lokal. Mau itu software luar. Bahkan kalau ada competitor gue yang punya software bagus... kalau memang cocok, ya gue pakai. π
Karena gue nggak sedang ikut lomba: "Siapa yang paling banyak bikin aplikasi sendiri?"
Gue lagi bangun bisnis.
6. Jadi Sebenarnya Sistem di Perusahaan Gue Campur?
Iya. Dan menurut gue ini justru normal.
| Kebutuhan | Bisa Pakai Apa? |
|---|---|
| Software yang sudah ada | |
| Accounting | Software yang sudah ada |
| CRM | Software yang sudah ada |
| Website | Bisa pakai tools yang sudah ada / custom |
| Automation | Tools automation / AI |
| Internal workflow tertentu | Bisa custom |
| Proses yang sangat spesifik | Bisa custom |
Jadi bukan: "Semua harus custom."
Tapi: "Pakai yang paling masuk akal."
7. Nah, Kapan Gue Bilang "Bikin Sendiri Aja"?
Gue biasanya mulai serius mempertimbangkan custom kalau:
Masalahnya sering kejadian. + Masalahnya bikin team buang banyak waktu. + Software yang sudah ada nggak cukup. + Masalahnya cukup penting buat bisnis.
Kalau cuma "Kayaknya keren kalau punya aplikasi sendiri." Belum cukup. π
Kalau "Gue pengen dashboard sendiri karena dashboard competitor gue jelek." Belum tentu juga.
Tapi kalau "Setiap hari lima orang buang satu jam karena proses ini." Nah. Sekarang kita ngobrol.
8. Sekarang Gue Balik Tanya Lo
Kalau lo sekarang punya masalah di bisnis dan kepikiran: "Kayaknya gue butuh sistem custom."
Coba jangan langsung cari developer. Jawab dulu:
- Masalah gue apa?
- Siapa yang kena masalah ini?
- Seberapa sering terjadi?
- Sekarang diselesaikan pakai apa?
- Software yang sudah ada bisa menyelesaikan nggak?
- Kalau bikin sendiri, apa yang jadi lebih gampang?
- Berapa banyak waktu yang bisa gue hemat?
Nah. Kalau setelah jawab semuanya lo malah sadar: "Oh... ternyata gue cuma butuh software yang sudah ada."
Bagus. Lo baru saja menghemat uang. π
Kalau jawabannya: "Nggak ada yang cocok. Dan masalah ini kejadian terus."
Nah. Sekarang baru gue bilang: "Oke. Custom system mulai masuk akal."
Cheat Sheet Gue
Kalau lo cuma mau ingat satu hal:
Sudah ada + cocok β pakai.
Sudah ada + kurang cocok β cari alternatif / sesuaikan.
Belum ada + masalahnya penting β pertimbangkan bikin.
Masalahnya bisa diberesin tanpa software β jangan bikin software.
Sesimpel itu. Karena menurut gue... software itu alat. Bukan tujuan.
Jadi, Balik ke Pertanyaan Awal...
"Kalau orang yang jual jasa bikin sistem, berarti perusahaan dia pakai sistem custom semua dong?"
Nggak. π
Dan justru menurut gue itu hal yang sehat. Karena kalau gue sebagai owner setiap ada masalah langsung bilang: "Bikin aplikasi!" Gue malah nggak menjalankan bisnis dengan benar. Gue cuma... membuat kerjaan buat developer gue sendiri. π
Yang harus gue pikirin: "Apa cara paling masuk akal buat menyelesaikan masalah ini?"
Kadang jawabannya: software yang sudah ada. Kadang: Excel. Kadang: automation. Kadang: AI. Kadang: custom system.
Dan kadang... "Nggak usah bikin apa-apa. Prosesnya aja yang dibenerin."
Nah. Itu juga jawaban.
Kalau Lo Sampai Baca Sini...
Makasih udah baca sampai selesai.
Dan kalau selama ini lo kira: "Kalau perusahaan software pasti semua sistem internalnya custom." Semoga sekarang jadi lebih kebayang.
Gue nggak mau bisnis gue punya banyak software. Gue mau bisnis gue punya software yang memang berguna.
Kalau sudah ada, gue pakai. Kalau nggak ada dan memang penting, baru gue bikin.
Karena pada akhirnya:
gue bukan bangun bisnis supaya bisa bikin software.
gue bikin software kalau itu memang bikin bisnis gue jalan lebih enak.
Kalau lo suka pembahasan kayak gini, follow @denganloren di Instagram. Gue bakal terus bahas software, AI, website, dan digitalisasi bisnis dengan bahasa yang gampang dicerna.
Sampai ketemu di konten berikutnya.
Penulis

Lorencius Alvin Purnama
Co-Founder & Managing Director
Before Exclolab, Loren spent a decade embedded in service businesses across Southeast Asia β not as an outside consultant, but as the person who sits with the team, watches how work actually flows, and figures out where the system is breaking down. He developed the Discovery methodology at Exclolab from that experience: the idea that you cannot design a good system until you understand the one it's replacing. At Exclolab, he owns the Discovery phase and the client relationship from first conversation through final deployment.