3 Aplikasi yang Menurut Gue Layak Lo Coba Sebelum Bikin Sistem Sendiri
ESB, Cicle, dan Egonixlab — dan kapan lo sebenarnya butuh bikin sendiri.
Lo Punya Masalah. Tapi Apakah Solusinya Harus Bikin Sendiri?
Hampir setiap minggu gue ngobrol sama owner bisnis yang kalimatnya kurang lebih sama:
"Gue butuh sistem buat bisnis gue."
Dan gue nggak langsung jawab iya.
Gue tanya dulu:
"Lo sudah coba cari aplikasi yang udah ada belum?"
Rata-rata jawaban mereka? Belum.
Bukan salah mereka — kalau lo nggak tahu sebuah aplikasi itu ada, gimana mau tahu kalau itu yang lo butuhkan?
Nah, di tulisan ini gue mau kasih shortcut itu.
Gue kerja di software development. Tapi justru salah satu hal yang paling sering gue sarankan ke owner adalah: cek dulu aplikasi yang sudah ada sebelum bikin sendiri.
Bukan karena gue nggak mau proyek. Tapi karena itu memang cara yang lebih masuk akal buat mulai.
Karena bikin software sendiri itu bukan cuma soal bikin aplikasinya. Ada biaya, waktu, revisi, testing, maintenance — dan nanti kalau ada masalah, ya lo yang harus ngurus.
Kalau masalah lo sebenarnya sudah bisa diselesaikan aplikasi yang udah jadi? Pakai aja. Nggak ada piala buat owner yang bikin software sendiri. 😂
Sebelum Masuk ke Aplikasinya...
Gue mau lo jawab satu pertanyaan dulu:
"Masalah terbesar di bisnis gue sekarang apa?"
Bukan:
"Gue butuh aplikasi."
Tapi:
"Gue kesel karena apa setiap hari?"
Misalnya:
"Gue capek tiap hari nanya ke team, kerjaan ini udah selesai belum?"
Itu masalah.
"Admin gue masih copy order dari WhatsApp ke Excel."
Itu masalah.
"Gue punya rental PS, tapi booking, waktu main, dan pembayaran masih dicatat manual."
Itu juga masalah.
Nah, setelah masalahnya jelas, baru kita cari alatnya.
1. ESB
Kalau lo punya bisnis F&B, coba lihat ESB dulu.
ESB punya ekosistem software yang memang dibuat untuk bisnis restoran dan cafe. Ada POS/kasir, inventory, pengelolaan menu dan meja, laporan, ERP, online ordering, sampai integrasi dengan platform order online. Jadi bukan cuma "aplikasi kasir" doang.
Cocok buat lo kalau:
- Punya restoran atau cafe
- Mulai punya beberapa kasir
- Punya banyak menu
- Mulai pusing urusan stok
- Punya lebih dari satu outlet
- Order dari beberapa channel mulai berantakan
- Masih banyak rekap manual
- Mau lihat laporan penjualan dengan lebih rapi
Misalnya sekarang kondisi lo:
Customer order dari GoFood.
Terus masuk ke HP.
Terus admin catat.
Terus masuk Excel.
Terus dicek lagi sama owner.
Terus malamnya direkap.
Terus besok pagi ada yang nanya: "Kemarin omzetnya berapa?"
😂
Nah, sistem seperti ESB memang dibuat untuk mengurangi kerjaan manual seperti itu. ESB juga menyediakan integrasi dengan GoFood, GrabFood, ShopeeFood, dan ESB Order pada produknya.
Yang gue suka dari ESB
Ekosistemnya cukup lengkap.
Jadi kalau bisnis lo sudah mulai serius di F&B, lo nggak cuma mikirin kasir. Lo juga bisa mikirin stok, pembelian, laporan, online order, dan operasional outlet dalam satu ekosistem.
Jangan gara-gara lihat banyak fitur terus lo mikir: "Wah, semua harus gue pakai."
Nggak. Kalau kebutuhan lo cuma kasir sederhana, ya cari paket yang sesuai. Jangan beli kapal pesiar kalau lo cuma mau nyebrang sungai. 😂
2. Cicle
Kalau masalah lo ada di team, gue bakal suruh lo lihat Cicle.
Ini beda banget dari ESB. Cicle fokus ke kerjaan dan komunikasi team.
Jadi kalau kondisi kantor lo sekarang kurang lebih begini:
"Bro, task yang kemarin udah?"
"Task yang mana?"
"Yang gue kirim di WA."
"Oh, yang itu?"
"Iya."
"Bentar gue cari."
😭
Nah... Cicle mencoba bikin kerjaan, komunikasi, file, reminder, kalender, dan laporan kerja team lebih teratur dalam satu tempat.
Cocok buat lo kalau:
- Team lo mulai banyak
- Kerjaan masih banyak lewat WhatsApp
- Sering lupa siapa ngerjain apa
- Sering harus follow-up kerjaan
- Deadline sering kelewat
- File kerjaan susah dicari
- Owner atau manager susah tahu progress team
- Banyak project jalan bersamaan
Salah satu hal yang menarik dari Cicle adalah mereka memang mencoba bikin sistem kerja yang lebih sederhana dan menggunakan bahasa Indonesia. Ada task, chat, file, kalender, reminder, laporan kinerja, dan pengaturan akses user.
Yang gue suka dari Cicle
Dia nggak cuma bilang "nih task manager".
Mereka mencoba menggabungkan kerjaan dan komunikasi team. Jadi lo nggak perlu:
- WhatsApp buat chat
- Trello buat task
- Google Drive buat file
- Spreadsheet buat laporan
- Calendar buat jadwal
- ...terus akhirnya lupa semuanya disimpan di mana
😂
Satu hal yang harus lo tahu: Aplikasi sebagus apa pun nggak akan membantu kalau team lo nggak mau pakai.
Jadi jangan cuma install. Lo harus bikin kebiasaan: "Kalau ada kerjaan, masukin ke Cicle." — bukan setengah jalan terus balik lagi ke WA. 😂
3. Egonixlab
Kalau lo main di bisnis PS rental / gaming, ini yang menurut gue paling menarik buat lo lihat.
Kenapa? Karena dibanding memakai aplikasi yang dibuat untuk semua jenis bisnis, aplikasi yang memang dibuat untuk satu jenis bisnis biasanya bisa lebih nyambung dengan kerjaan sehari-hari lo.
Kalau lo punya rental PS, gaming venue, tempat main dengan banyak station, sistem booking, atau banyak customer yang datang bergantian — lo biasanya punya masalah yang sangat spesifik.
Misalnya:
"PS nomor 4 dipakai siapa?"
"Booking jam 7 siapa?"
"Udah bayar belum?"
"Mainnya sampai jam berapa?"
"Hari ini station mana yang paling laku?"
Kalau semua masih dicatat manual, lama-lama staff lo jadi: operator + kasir + scheduler + manusia Excel. 😂
Yang gue suka dari konsep Egonixlab
Fokusnya spesifik.
Dan menurut gue, itu justru salah satu kelebihannya. Karena lo nggak selalu butuh:
"Software yang bisa melakukan semuanya."
Kadang lo cuma butuh:
"Software yang ngerti bisnis gue."
Kalau aplikasi yang sudah ada bisa mengikuti cara kerja bisnis lo, kenapa harus bikin sendiri?
Jadi... Mana yang Cocok buat Lo?
Gampang.
Lo punya restoran / cafe? → Lihat ESB
Kalau masalah lo: kasir, order, inventory, laporan, multi-outlet, operasional F&B — ESB masuk shortlist.
Lo punya team yang mulai berantakan? → Lihat Cicle
Kalau masalah lo: task, deadline, komunikasi team, laporan kerja, file, project — Cicle masuk shortlist.
Lo punya rental PS / gaming venue? → Lihat Egonixlab
Kalau masalah lo: booking, station, waktu bermain, pembayaran, operasional venue — Egonixlab masuk shortlist.
Quick Check
| Kalau masalah utama lo... | Coba lihat |
|---|---|
| Kasir & operasional F&B | ESB |
| Order & operasional restoran | ESB |
| Inventory F&B | ESB |
| Task & kerjaan team | Cicle |
| Komunikasi team | Cicle |
| Deadline & laporan kerja | Cicle |
| Rental PS / gaming venue | Egonixlab |
| Booking & operasional venue | Egonixlab |
Tapi Kapan Lo Harus Bikin Software Sendiri?
Nah. Ini bagian yang menurut gue paling penting. Karena gue bukan mau bilang "pakai aplikasi existing selamanya." Ada kondisi di mana bikin sistem sendiri memang masuk akal.
1. Cara kerja bisnis lo terlalu khusus
Aplikasi yang ada memaksa lo mengikuti cara kerja mereka. Padahal proses bisnis lo memang beda.
2. Team lo malah kerja dua kali
Misalnya: input di aplikasi A → copy lagi ke Excel → copy lagi ke aplikasi B. Kalau begini, aplikasinya mungkin malah bikin masalah baru.
3. Banyak aplikasi harus saling nyambung
Misalnya: CRM → Accounting → WhatsApp → Inventory → Dashboard. Terus semuanya harus saling kirim data. Kalau sudah mulai begini, mungkin lo butuh solusi yang lebih khusus.
4. Ada pekerjaan manual yang terus berulang
Misalnya setiap hari staff lo melakukan: download data → edit Excel → copy → paste → kirim laporan. Kalau dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun? Coba hitung sendiri berapa jam yang kebuang.
5. Aplikasi yang ada sudah mulai menghambat
Ini tanda yang paling gampang dilihat. Kalau team lo mulai sering bilang:
"Sebenernya enak kalau sistemnya bisa begini..."
"Sayangnya aplikasi ini nggak bisa begitu."
"Jadi kita harus export dulu, terus masukin lagi ke Excel."
Mungkin sudah waktunya lo lihat opsi lain.
Jangan Bikin Software Cuma Karena Bisa
Ini prinsip yang gue pegang.
Sekarang AI memang bikin software development jauh lebih cepat. Dan gue yakin ke depannya akan makin cepat lagi. Tapi menurut gue, pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Bisa bikin software nggak?"
Hampir semuanya sekarang bisa dibikin. Pertanyaannya:
"Perlu nggak gue bikin sendiri?"
Nggak ada gengsi. Tujuan lo bukan punya software keren. Tujuan lo: kerjaan lebih rapi, team lebih gampang kerja, dan bisnis lo nggak bikin lo pusing tiap hari.
Checklist Sebelum Lo Bikin Sistem Custom
Kalau suatu hari lo kepikiran: "Gue kayaknya butuh software sendiri." — cek dulu:
- Gue sudah tahu masalah yang mau gue beresin
- Gue sudah coba cari aplikasi existing
- Gue sudah cek apakah aplikasi existing bisa memenuhi kebutuhan gue
- Gue tahu bagian mana yang nggak bisa dilakukan aplikasi existing
- Gue tahu siapa yang akan memakai sistemnya
- Gue tahu proses kerja yang mau dimasukkan ke sistem
- Gue tahu apa yang harus terjadi setelah sistem dibuat
- Gue sudah tahu fitur mana yang benar-benar penting
- Gue nggak cuma bikin karena "pengen punya aplikasi sendiri"
Kalau banyak yang belum bisa lo jawab? Jangan coding dulu. Ngobrolin masalahnya dulu.
Satu Pertanyaan Terakhir
Kalau sekarang gue kasih lo pilihan:
A. Pakai aplikasi yang sudah jadi.
B. Modifikasi / integrasikan beberapa aplikasi.
C. Bikin sistem sendiri.
Jangan otomatis pilih C cuma karena kelihatannya paling keren. Pilih yang paling masuk akal buat bisnis lo. Karena kadang jawaban terbaik memang:
"Nggak usah bikin."
Dan sebagai orang yang kerja di software development, gue justru nggak masalah ngomong begitu. Karena buat gue: software itu alat. Bukan tujuan.
Bonus: Cara Gue Biasanya Mulai
Kalau ada owner datang ke gue dan bilang: "Gue butuh sistem."
Gue nggak langsung jawab: "Bisa. Budgetnya RpXXX juta."
Gue justru bakal tanya:
"Masalah lo apa?"
Karena kalau masalahnya bisa diselesaikan dengan aplikasi yang sudah ada? Gue bakal bilang pakai aplikasi itu.
Kalau perlu sedikit integrasi? Kita integrasikan. Kalau memang nggak ada yang cocok? Nah, baru kita pikirin sistem custom.
Menurut gue, itu cara yang lebih sehat buat mulai digitalisasi.
Jangan mulai dari software.
Mulai dari masalah.
Kalau Sudah Coba Semua — Baru Ngobrol Soal Sistem Custom
Di Exclolab, gue dan team bukan cuma bikin software.
Sebelum nulis satu baris kode pun, kita duduk dulu dan ngerti cara kerja bisnis lo yang sekarang — siapa ngerjain apa, data ngalir dari mana ke mana, dan di mana titik yang paling sering bikin pusing.
Karena sistem yang bagus bukan yang punya fitur paling banyak. Tapi yang paling ngerti bisnis lo.
Kalau lo sudah coba ESB, Cicle, Egonixlab, atau aplikasi lainnya — dan masih ngerasa ada yang nggak pas:
Baru kita ngobrol serius soal sistem custom. 😏
Bukan soal budget dulu. Bukan soal teknologi dulu. Tapi soal: masalah lo sebenarnya apa, dan sistem seperti apa yang paling masuk akal buat menyelesaikannya.
Kalau lo mau mulai dari sana — tinggalkan pesan di sini dan kita jadwalkan obrolan pertama.
Nggak ada kewajiban. Nggak ada sales pitch. Cuma ngobrol dulu.
Penulis

Lorencius Alvin Purnama
Co-Founder & Managing Director
Before Exclolab, Loren spent a decade embedded in service businesses across Southeast Asia — not as an outside consultant, but as the person who sits with the team, watches how work actually flows, and figures out where the system is breaking down. He developed the Discovery methodology at Exclolab from that experience: the idea that you cannot design a good system until you understand the one it's replacing. At Exclolab, he owns the Discovery phase and the client relationship from first conversation through final deployment.